SEKITARSEMARANG – Perang Sekigahara, yang terjadi pada tanggal 21 Oktober 1600, merupakan salah satu pertempuran paling signifikan dalam sejarah Jepang. Pertempuran ini tidak hanya menentukan struktur politik dan sosial Jepang selama beberapa abad ke depan tapi juga menandai akhir dari periode Sengoku, era perang saudara yang berkecamuk selama hampir satu abad. Dari sini, kita akan mengeksplorasi sejarah, latar belakang, jalannya pertempuran, dan dampak yang ditimbulkannya terhadap Jepang.

Periode Sengoku adalah masa ketika Jepang terfragmentasi menjadi beberapa wilayah yang dikuasai oleh daimyo, atau penguasa feodal, yang saling bersaing untuk kekuasaan. Pada akhir abad ke-16, Oda Nobunaga dan penerusnya, Toyotomi Hideyoshi, berhasil mempersatukan Jepang melalui serangkaian kampanye militer yang agresif. Setelah kematian Hideyoshi pada tahun 1598, kekuasaan terpusat yang dia bangun mulai goyah, dan konflik atas suksesi kekuasaan muncul.

Hideyoshi meninggalkan seorang putra yang masih bayi, Toyotomi Hideyori, yang di bawah pengawasan dewan lima regent. Salah satu regent tersebut, Tokugawa Ieyasu, secara bertahap memperkuat posisinya dan mencari untuk mengkonsolidasikan kekuasaan di bawah kekuasaannya. Ketegangan antara faksi-faksi yang mendukung Ieyasu dan mereka yang setia kepada keluarga Toyotomi meningkat, yang akhirnya memicu pecahnya Perang Sekigahara.

Perang Sekigahara adalah pertempuran yang melibatkan lebih dari 160,000 samurai dari seluruh Jepang. Pasukan yang bertempur dibagi menjadi dua Pasukan Timur di bawah komando Tokugawa Ieyasu dan Pasukan Barat yang loyal kepada keluarga Toyotomi. Pertempuran ini berlangsung hanya selama beberapa jam tetapi sangat intens dan berdarah.

Ieyasu, meskipun secara numerik lebih sedikit, memanfaatkan taktik dan intelijensi superior. Dia berhasil memenangkan dukungan beberapa daimyo penting yang awalnya berada di pihak musuh. Salah satu momentum kunci adalah ketika Kobayakawa Hideaki, yang sebelumnya tidak pasti dalam menentukan sikap, akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Ieyasu selama pertempuran. Pengkhianatan ini menjadi pukulan telak bagi Pasukan Barat dan secara efektif mengubah arah pertempuran.

Kemenangan Tokugawa Ieyasu dalam Perang Sekigahara menjadi titik balik dalam sejarah Jepang. Ieyasu menetapkan pemerintahan militer, atau bakufu, dengan dirinya sebagai shogun, yang memulai periode Edo yang berlangsung lebih dari 250 tahun. Dalam periode ini, Ieyasu dan penerusnya, shogun-shogun Tokugawa, memerintah Jepang dengan tangan besi dan memastikan perdamaian dan stabilitas melalui isolasi negara dari pengaruh asing dan pengendalian ketat atas daimyo.

Perang Sekigahara juga memiliki implikasi sosial dan budaya yang mendalam. Periode Edo ditandai dengan kemakmuran dan pertumbuhan dalam seni dan budaya Jepang. Itu adalah zaman ketika seni tradisional seperti kabuki dan ukiyo-e berkembang pesat, serta periode penting dalam pengembangan bushido, kode etik samurai.

Perang Sekigahara bukan hanya pertempuran militer itu adalah peristiwa yang merombak struktur sosial-politik Jepang dan menentukan jalannya sejarah negara tersebut. Melalui kemenangan yang diperoleh, Tokugawa Ieyasu tidak hanya mengkonsolidasikan kekuasaan di tangannya tetapi juga meletakkan dasar untuk masa depan Jepang yang damai dan teratur. Perang Sekigahara, dengan demikian, merupakan contoh bagaimana satu pertempuran dapat mengubah nasib sebuah bangsa dan mendorong periode baru dalam sejarahnya.