SEKITARSEMARANG – Film “10,000 BC” adalah sebuah kisah petualangan epik yang dirilis pada tahun 2008, disutradarai oleh Roland Emmerich, yang juga dikenal dengan film-film spektakuler lainnya seperti “Independence Day” dan “The Day After Tomorrow”. Dengan latar belakang era prasejarah, film ini membawa penonton ke sebuah peradaban yang belum terjamah, di mana manusia dan binatang purba hidup berdampingan. Meskipun film ini adalah karya fiksi, namun film 10,000 BC mencoba memvisualisasikan gambaran tentang bagaimana kehidupan dapat terlihat di masa yang belum tercatat itu.

Film ini mengikuti kisah D’Leh, seorang pemburu mamut muda dari suku pemburu pengembara yang sederhana, yang hidupnya berubah drastis setelah serangan dari pasukan misterius yang menyerang dan menculik sebagian anggota sukunya, termasuk Evolet, wanita yang dicintainya. D’Leh, yang telah jatuh cinta dengan Evolet sejak dia dan Evolet ditemukan oleh sukunya saat mereka masih anak-anak, bertekad untuk menyelamatkan Evolet dan rekan-rekan sukunya yang diculik, memulai perjalanan panjang yang akan membawa dia ke wilayah yang tidak diketahui dan penuh bahaya.

Dituntun oleh ramalan yang telah lama dipegang oleh sukunya dan dengan dukungan dari Tic’Tic, mentor dan teman dekatnya, D’Leh memimpin sekelompok kecil pemburu untuk melacak dan menyelamatkan Evolet. Sepanjang perjalanannya, D’Leh menghadapi berbagai rintangan mulai dari binatang buas, kondisi alam yang keras, hingga pertemuan dengan suku-suku yang belum pernah dia ketahui sebelumnya.

Salah satu elemen yang paling menarik dari “10,000 BC” adalah perjumpaan D’Leh dengan berbagai suku yang berbeda, yang membuatnya menyadari bahwa ada dunia yang lebih luas dan bervariasi di luar komunitas kecilnya. Kekayaan budaya dan kebersamaan menjadi tema sentral, saat D’Leh berhasil menginspirasi suku lain untuk bergabung dengan misinya melawan musuh bersama yang ternyata adalah para pembangun piramida, dipimpin oleh seorang “dewa” yang kejam.

Ketika D’Leh dan kelompoknya mendekati tempat para tawanan disekap, mereka dihadapkan dengan sebuah peradaban yang jauh lebih maju dari segi teknologi dan arsitektur. Di sini, film memasukkan elemen sejarah alternatif dengan menggambarkan pembangunan piramida oleh penduduk asli yang diperbudak, sebuah konsep yang menyimpang dari teori sejarah yang diterima secara umum.

Konflik klimaks terjadi ketika D’Leh harus menyelamatkan Evolet dan sukunya dari cengkeraman penguasa tiran tersebut. Dengan kecerdikan, keberanian, dan dukungan dari para sekutu barunya, D’Leh memimpin pemberontakan terhadap penguasa itu dalam sebuah pertempuran epik yang menentukan nasib mereka semua.

“10,000 BC” menerima beragam respon dari penonton dan kritikus. Secara visual, film ini diakui karena efek khusus yang mengagumkan dan reka set yang mendetail, namun di sisi lain, film ini dikritik karena tidak akurat secara historis dan naskah yang dianggap kurang kuat. Meski begitu, film ini berhasil menghibur banyak penonton dengan elemen petualangan dan drama romantis yang universal.

Walaupun mungkin tidak memberikan pelajaran sejarah yang akurat, film ini menawarkan esensi dari cerita-cerita petualangan klasik perjuangan seorang pahlawan untuk mengatasi rintangan demi cinta dan keadilan. Dengan latar yang eksotis dan penggambaran epik tentang perjalanan manusia menuju peradaban, “10,000 BC” tetap menjadi film yang menarik untuk ditonton bagi mereka yang menikmati film-film bertema epik dan petualangan.