SEKITARSEMARANG – Naruto, seri manga dan anime karya Masashi Kishimoto, telah menciptakan sebuah dunia ninja yang luas dengan beragam karakter yang memiliki keunikan dan kekuatan tersendiri. Salah satu karakter yang paling menonjol dan berbeda adalah Hidan, anggota dari organisasi Akatsuki yang terkenal akan kemampuannya yang langka keabadian. Dari sini, kita akan mendalami sifat kekuatan Hidan, bagaimana ia memperolehnya, pengaruhnya terhadap plot, serta implikasi filosofis dan moral dari keabadian dalam konteks Naruto.

Hidan adalah seorang ninja dari Yugakure, desa yang telah meninggalkan cara-cara ninja dan memilih untuk menjadi desa turis. Namun, Hidan merasa tidak puas dengan perubahan ini dan akhirnya menemukan imannya dalam kepercayaan Jashin, sebuah agama yang mengagungkan persembahan melalui pengorbanan nyawa. Kepercayaannya ini bukan sekadar simbolis ia secara harfiah mampu menghubungkan nyawanya dengan orang lain melalui ritual yang membuatnya tidak bisa mati, selama ritual tersebut dilakukan dengan benar.

Kekuatan Hidan terfokus pada ritus yang disebut “Sembahyang Jashin”. Dalam ritual ini, Hidan menggambar simbol Jashin menggunakan darahnya sendiri, yang memungkinkan dia untuk memasuki semacam kesatuan dengan targetnya. Setelah melakukan ritual dan memakan sebagian darah musuhnya, apa pun luka yang Hidan terima akan dialami juga oleh sang musuh, mirip dengan boneka voodoo dalam legenda rakyat. Kekebalannya terhadap rasa sakit dan kematiannya menjadikan Hidan senjata yang sangat efektif dan sulit untuk dikalahkan.

Kekuatan Hidan memberikan dimensi baru dalam pertarungan di dunia Naruto. Sebagai salah satu anggota Akatsuki, kehadirannya menandakan bahaya yang tidak hanya fisik tetapi juga psikologis. Lawan-lawannya sering kali jatuh ke dalam keputusasaan ketika menyadari bahwa mereka tidak hanya berjuang melawan Hidan, tapi juga melawan kemungkinan kematian mereka sendiri. Kekuatan ini membawa pertanyaan tentang nilai kehidupan dan kematian dalam dunia shinobi yang sudah terbiasa dengan perang dan pembunuhan.

Karakter Hidan memperkenalkan pertanyaan filosofis tentang makna keabadian. Sementara banyak orang mungkin melihat keabadian sebagai anugerah, Hidan menggambarkannya sebagai kutukan yang mengikatnya pada ritual kekerasan yang tak berkesudahan. Dalam konteks Naruto, keabadian Hidan tidak sepenuhnya positif atau negatif, melainkan dipandang sebagai alat yang nilai moralnya ditentukan oleh penggunanya.

Selain itu, Hidan memberikan wawasan tentang bagaimana kepercayaan bisa mempengaruhi moralitas seseorang. Keabadiannya, yang diperoleh melalui kepercayaannya pada Jashin, mendorongnya untuk melakukan tindakan yang secara universal dianggap keji. Ini menunjukkan bahwa dalam Naruto, kekuatan tidak hanya berasal dari latihan fisik atau mental, tetapi juga dari keyakinan spiritual.

Hidan, dengan kekuatan uniknya, menambahkan kedalaman pada dunia Naruto yang sudah kompleks. Dia bukan hanya simbol dari keabadian tetapi juga pengingat akan sisi gelap dari kekuatan yang absolut. Kekuatan Hidan mengajarkan kita bahwa dalam setiap kekuatan terdapat kemungkinan bahaya dan bahwa keabadian mungkin bukanlah hadiah yang diharapkan banyak orang. Dalam naratif Naruto, Hidan berdiri sebagai contoh yang kuat tentang bagaimana kekuatan dan kepercayaan dapat mempengaruhi seseorang dan dunia di sekitarnya secara dramatis.